Company

 PRESS RELEASE
    > Jaya Ibrahim, Tak Lupa...

dewi– Agustus 2004

Jaya Ibrahim, Tak Lupa Budaya Sendiri

Bertahun-tahun hidup di negeri orang tak membuatnya lupa akan akar budaya Indonesia. Dan trend pria metroseksual baginya bukanlah suatu hal yang baru.

Desainer interior yang satu ini bangga akan budaya Indonesia yang beragam dan menjadikannya sumber inspirasi dalam berkarya. Dia juga mengagumi negara Thailand, sebab masyarakatnya sangat memegang teguh tradisi budaya dan juga memanfaatkan budayanya sebagai sumber kreativitas. Sementara dalam urusan berbusana dia senang bereksperimen dan berprinsip sepanjang busananya nyaman dipakai dan rapi dia pasti memakainya.

Kalau ada waktu senggang, biasanya anda pergi kemana untuk relaksasi?

Ke rumah saya di Bogor karena memang cocok untuk beristirahat. Tempat tersebut juga saya gunakan sebagai sarana bernostalgia. Mengenang kebersamaan saya dengan ibu di rumah itu. Selain Bogor, saya pun suka berlibur ke Thailand, khususnya Bangkok.

Bagaimana anda mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam berbagai karya desain interior anda?

Setiap orang memang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dan terus berubah dari waktu ke waktu. Melihat hal tersebut, saya berpikir kita tidak bisa membuat senang setiap orang dengan memenuhi semua keinginannya. Bagi saya yang terpenting sebuah karya memiliki nilai seni yang baik, tidak makan tempat, sifatnya fungsional, nyaman, dan tetap bisa sesuai dengan perkembangan zaman.

Di tengah maraknya gaya arsitektur, mengapa anda tetap mempertahankan sentuhan tradisional dalam detail desain anda?

Lama hidup diluar negeri ternyata malah membuka mata saya bahwa budaya bangsa kita sangat beragam dan unik. Dari kacamata itu, saya mencoba mengembangkan dan menerjemahkan budaya sendiri menjadi sesuatu yang lain. Lagi pula saya percaya masih banyak orang, terutama anak-anak muda, yang menghargai nilai tradisional dalam karya seni. Terlepas dari itu, secara pribadi saya merasa perlu mempertahankan budaya sendiri sebagai latar belakang karya saya, dan berharap orang lain pun mau bersikap demikian.

Kultur Jawa tampaknya cukup kuat mempengaruhi kreasi anda?

Sebenarnya tidak juga. Saya berusaha untuk memadukan berbagai unsur gaya baik barat maupun timur ke dalam desain. Tapi memang, tradisi Jawa masuk secara dominan dalam diri saya, terutama ibu dan eyang saya. Secara sadar atau tidak, hal tersebut mungkin mempengaruhi hasil karya saya.

Salah satunya rumah anda di Cipicung, Bogor?

Rumah itu memang kental dengan unsur tradisionalnya, terutama Jawa, kebetulan saya memang membangunnya sepulang dari Inggris. Melalui rumah ini saya mengekspresikan bahwa saya tidak lupa tradisi dan budaya bangsa sendiri, meski sempat lama hidup di 'negeri orang'. Alasan lainnya adalah untuk menghormati ibu, eyang saya, dan tradisi Jawa itu sendiri. Mulai dari arsitektur, interior dan lansekap semuanya memang saya kerjakan sendiri.

 

 

 


Home | Collections | Company | Designers | Distributors | Contact
Copyright © 2001-2003 PT Mangala Adhigaya Perdana. All rights reserved. Design by Tulakom