Company

 NEWS
    > Architectural Digest
    > east
    > HOME & decor
    > ish
    > MEN'S Folio
    > Harper's Bazaar
    > dewi

BAZAAR
Harper's Bazaar
Juni 2001

Harper's Bazaar, Juni 2001 > LIFE (Page 72-74)

Perabot Gaya Transisi
Dunia Barat dan Timur memiliki sudut pandang keindahan yang berbeda. Namun jika keduanya ditujukan untuk menghasilkan sebuah perabot bergaya kontemporer, dunia interior akan semakin kaya.
Oleh Miranti M. Lemy.

PERABOT YANG DIBUAT DENGAN sebuah latar belakang pemikiran yang dalam akan sangat indah penampilannya. Jika kemudian perabot itu menjadi benda ideal untuk manusia, maka perabot itu pun mejadi elemen penghias ruang yang secara fungsional memudahkan penggunanya melakukan aktivitas. Saat ini perabot Asia menjadi sorotan pencinta dunia Interior dan Arsitektur. Booming yang melanda Indonesia sejak awal tahun '90-an masih terasa hingga sekarang. Perabot Asia banyak sekali ditemukan di bangunan resort tropis yang akhirnya menginspirasi sebuah butik interior "X-tra Resort" di Singapura untuk lebih mengangkatnya ke dunia international.

'Solo Exhibition' adalah judul yang digelar butik ini untuk menampilkan karya dua desainer perabot yang salah satunya berasal dari Indonesia, Jaya Ibrahim dan John Saunders. Pameran yang hanya mengundang kalangan arsitek, penata interior dan para klien di Singapura diselenggarakan dalam sebuah acara cocktail yang casual. Memang, karena tujuan pameran ini adalah untuk memperbesar jaringan ekspor-impor perabot dengan pasar yang menginginkan jenis desain seperti ini.

Mereka menggali International Style (sebuah aliran arsitektur yang lahir di Eropa antara tahun 1920-1930an) kemudian diwujudkan dalam konteks Asia terutama dari kekayaan tradisi budaya Jawa yang dikombinasikan dengan begitu luwesnya. Hasilnya berupa perabot 'fusion' bergaris desain kontemporer dalam nafas 'New Asia'. Sebagai tim, kedua desainer ini telah bekerja sama selama hampir 20 tahun dalam berbagai proyek termasuk menciptakan Solo Collection.

Jaya Ibrahim yang sempat bekerja untuk Anouska Hempel, pemilik Blakes Hotel dan desainer interior ternama di London, dibesarkan dalam kultur Jawa yang kental. Selama dia berkiprah 20 tahun di Eropa, perspektif dan sensibilitasnya tentang desain menjadi sangat terasah. Ketika ia kembali ke Indonesia, akhirnya ia menemukan sudut pandang yang berbeda tentang keindahan dan kekayaan desain dalam budaya Jawa.

Seperti misalnya dalam koleksi yang disebut 'Majapahit', merupakan karya manifestasi Jaya dan tim desainernya untuk mempersembahkan keindahan warisan kejayaan di Jawa abad 15. Keunikan artistic yang luar biasa dari kerajaan besar ini hingga kini masih tinggal dan hidup di seluruh peri kehidupan kepulauan Indonesia. Kehebatan ini lalu digabungkan Jaya dengan pengaruh-pengaruh ragam desain dari Eropa, Rusia dan kawasan Asia menjadi sebuah desain perabot kayu yang modern tetapi tetap mengandung unsur tradisional. Koleksi antara lain banyak ditemukan di hotel The Dharmawangsa di Jakarta. Penamaan yang mengambil sebutan dari kerajaan Majapahit juga sangat unik: Paduka Sofa, Lasem Table, Singasari Chair,ataupun Erlangga Cabinet.

Sedangkan John Saunders dengan koleksi 'Dacha' menampilkan perabot bergaris sederhana bergaya kontemporer dengan sentuhan Timur. Inspirasinya datang setelah dia menyelesaikan sejumlah desain bergaya 'The Imperial Rusia' untuk hotel The Dharmawangsa. Sehingga tak heran jika nama-namanya menjurus pada tokoh Rusia dari Nikolai I armchair, Natasha armchair, Nevitsky desk sampai Boris standing lamp.

Koleksi lainnya disebut 'Cinere' merupakan serangkaian perabot yang pernah digarap Jaya untuk rumah kedua orang tuanya di daerah Cinere. Jika menyinggung masalah desain, koleksi ini merupakan hasil dialog nostalgia masa kecilnya di Indoneisa dengan pengalaman desainnya yang diserap selama di Eropa. Gaya yang ditampilkan merupakan dialog masa lalu dan masa kini sehingga menurut Jaya ada semacam jembatan yang menghubungkan kedua masa itu. Namun panamaannya mengambil nama Cina seperti Suchow armchair, Berlin armchair, Numing side table ataupun Shanghai sofa.

Jaya mengatakan, "Cara pandang orang Timur dan Barat ternyata berbeda dalam menyelesaikan sebuah masalah, termasuk ketika mendesain." Namun dia mengakui bahwa perbedaan lingkungan budaya justru memicu perkembangan dan pencapaian visi artistic di antara mereka. Dulu sebelum berkiprah di dunia interior, John Saunders bekerja sebagai desainer grafis untuk film dan panggung di London. Setelah bertemu dengan Jaya, mereka kerap berkolaborasi menggarap sejumlah proyek desain penting di mancanegara. Karya-karya mereka banyak ditemukan di hotel-hotel yang dikelola Grup Aman Resort di Indonesia maupun di tempat-tempat lain di dunia.

 


Home | Collections | Company | Designers | Distributors | Contact
Copyright © 2001-2003 PT Mangala Adhigaya Perdana. All rights reserved. Design by Tulakom